Langkau ke kandungan utama

Catatan

Menunjukkan catatan yang berlabel puisi

Hujan

Gugurlah selebatnya usah lagi bersunyi  di celahan awan kelabu tanpa rintikmu aku kering ilham hilang arah untuk menulis puisi tentang kamu dan untuk dia yang aku tinggalkan dalam rintik-rintikmu suatu pagi bermusim yang lalu   Sudah Julai. Bakal bertemmu Ramadan. Sudah lupa bagaimana menulis yang indah-indah. ps : Terima kasih Cik Ati Kayat. Kita kutip ilham dari blog awak dan tulis secara spontan  :)

Dia dan secangkir kopi pahit

via carian Google.com Dia dan secangkir kopi pahit adalah khayalan paling sakit  adalah realiti walau sedikit Tak sesiapa mampu, kawan menghalang senja menenun renda menghadang hari bertukar kelam mencincang kepulan aroma kematian Biarkan sang langit, usah gundahkan ratapannya tak akan lebih kelam tanpa hadirnya malam Dia satu-satunya yang mendengar tangisku ketika ku mula berani menyajikan anggur termanis tanpa peduli betapa berat perjuangan saat kaku-kaku jemari kupaksa lurus cuba mengumpil pintu kehidupan Malam ini malam bersunyi-sunyian pulanglah gapai perjalanan terakhir kita pasti   bertemu di teluk yang sama saat ruang terakhir mulai kita susuri moga nyala yang indah terangi luar dalamnya dan aku masih berdoa di dalam kebisuan ini Dia dan secangkir kopi pahit adalah khayalan paling sakit  adalah realiti walau sedikit

Bukan sesiapa

Bukan kejora bukan neon jauh sekali permata sentiasa sirna walau dalam remang sore dalam redup senja dalam rintik hujan dalam kelam malam dan kabus pagi Malam ini  berdoa langit terang  dan ada baki bintang untuk aku hitung Souces

Perkongsian kecil

Sempena penghulu segala hari, aku kongsikan sebuah catatan lama.  Barangkali dalam roh yang masih serupa. SAJAK KECIL UNTUK KUCING LIAR Sementara menanti dua puluh lima haribulan untuk setiap purnama aku cuma punya beberapa keping roti lupus tarikh untuk dikongsi bersama 10.41 am 25/6/2009 FOTO HIASAN : MEOW-MEOW SAYA

Puisi dari Jalan TAR

Semoga kamu terus bising sesak sarat dek warga asing Dalam kebingungan aku melangkah Hati gundah berputik tanya ini tanahku atau daerah mereka  Jalan TAR dan Jalan Ampang langkah kadang sumbang dan tempang kabur, keliru, sesak dan lesu dalam resah berputik soal mana saudara, mana banjingan Sarap sampah mengotorkan wajahmu Dosa pahala bergaul jadi satu Tiada silu, tiada malu dalam hati masih berputik tanya mengapa kalis hukum mengapa kebal denda Jalan TAR sudah terlalu tua engkau sudah lama wajahmu ditaburi sampah dan hanyir ludah! Sumber foto Jalan TAR 03.08.2011

Lima catatan kenangan sesudah bermastautin

/1/ Sebuah tren dalam kenangan Dalam gemerlap cahaya pagi pada sebuah kota dengan seribu kerlip di masa lalu aku menjerit tanpa suara, rasa putus asa kadang tersisa didera bayu dingin yang ranum Ah! kota ini, yang paling ku benci dalam separa cinta dalam sesak nyawa mungkin masih ku ingat namanya sekadar satu dua kota yang ku jalani dalam lambaian cerita waktu usia separuh ranum bisa tancapkan sejarah di minda kenangan Penguasa asyik bermadah seloka bukan tentang air sumur senja yang dibasahkan jiwa di paruh waktu bukan tentang tumpahnya air mata di masa lalu bukan Tuhan yang di sembah di lima waktu bukan tentang penjual kaki lima yang sentiasa lari dikejar mereka pastinya gadis-gadis bermata bundar, berharuman Estee Lauder dan bagaimana harus menawan mereka dengan mandat diberi rakyat Malam bertransformasi pagi dan pagi adalah babak baharu dalam jurnal kehidupan ia hidup bersama nyawa seribu embun di serumpun bambu tua di sebuah pagi seranum anggur peram pada...

Dendang Cinta: sekadar mengulas rasa

Dendang Cinta Bertolt Brecht Ini saja koleksi antologi puisi yang saya miliki Sewaktu menghayati Dendang Cinta antologi puisi Bertolt Bercht (terjemahan Pauline Fan) pemberian Alina ; saya yang kurang ilmu agak keliru. Terbiasa dengan karya Pak Samad Said, Allahyarham Usman Awang, penyair Marsli N.O, Suhaimi Haji Muhammad (sekadar menzahirkan beberapa nama besar yang diingati), saya bergumam sendirian” Sajak apa ni?” Keselarasan Bidi di Peking Di Allgau, Bie Selamat, dia kata Dibalas, pagi ~ Bertolt Bercht~ Muka surat 9 (Dendang Cinta) Dan saya tidak begitu mesra(baca: tidak tahu lansung,sekadar mendengar nama) dengan karya penyair-penyair dari tanah seberang kecuali Chairil Anwar. Atau mana-mana penyair dari Timur Tengah. Keterbasan bahasa juga menghalang saya menghayati puisi Keats, Shakespeare mahupun Pablo Neruda. Ah ! Dangkalnya ilmu saya. Oleh itu, setiap kali melakar puisi, saya bimbang dan sangat berhati-hati. Saya takut lari makna dan segala macam ketidaksempuranaan. Paling...