Jump to ratings and reviews
Rate this book

Howl's Moving Castle #1

Howl's Moving Castle

Rate this book
An alternative cover edition for this ISBN can be found here

Sophie has the great misfortune of being the eldest of three daughters, destined to fail miserably should she ever leave home to seek her fate. But when she unwittingly attracts the ire of the Witch of the Waste, Sophie finds herself under a horrid spell that transforms her into an old lady. Her only chance at breaking it lies in the ever-moving castle in the hills: the Wizard Howl's castle. To untangle the enchantment, Sophie must handle the heartless Howl, strike a bargain with a fire demon, and meet the Witch of the Waste head-on. Along the way, she discovers that there's far more to Howl—and herself—than first meets the eye.

448 pages, Mass Market Paperback

First published April 1, 1986

Loading...
Loading...

About the author

Diana Wynne Jones

160 books12.4k followers
Diana Wynne Jones was a celebrated British writer best known for her inventive and influential works of fantasy for children and young adults. Her stories often combined magical worlds with science fiction elements, parallel universes, and a sharp sense of humor. Among her most beloved books are Howl's Moving Castle, the Chrestomanci series, The Dalemark Quartet, Dark Lord of Derkholm, and the satirical The Tough Guide to Fantasyland. Her work gained renewed attention and readership with the popularity of the Harry Potter series, to which her books have frequently been compared.

Admired by authors such as Neil Gaiman, Philip Pullman, and J.K. Rowling, Jones was a major influence on the landscape of modern fantasy. She received numerous accolades throughout her career, including the Guardian Children's Fiction Prize, two Mythopoeic Awards, the Karl Edward Wagner Award, and the World Fantasy Award for Life Achievement. In 2004, Howl's Moving Castle was adapted into an acclaimed animated film by Hayao Miyazaki, further expanding her global audience.

Jones studied at Oxford, where she attended lectures by both C.S. Lewis and J.R.R. Tolkien. She began writing professionally in the 1960s and remained active until her death in 2011. Her final novel, The Islands of Chaldea, was completed posthumously by her sister Ursula Jones.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
236,359 (49%)
4 stars
159,452 (33%)
3 stars
65,003 (13%)
2 stars
12,692 (2%)
1 star
4,689 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 44 reviews
Profile Image for bakanekonomama.
576 reviews85 followers
December 6, 2011
Jadi anak sulung itu nggak enak. Jadi anak sulung itu berarti kau harus bertanggung jawab atas keluargamu. Atas orang tuamu, atas adik-adikmu (kalau adiknya banyak), dan bertanggung jawab untuk meneruskan usaha keluarga (kalau punya). Makanya, anak sulung itu dianggap selalu bernasib sial, nggak bisa memutuskan sesuatu atas keinginannya sendiri. Seolah-olah nasibnya udah ditentukan oleh orang-orang di sekitarnya, dan dia nggak punya pilihan lain selain menerimanya....

Yah, kira-kira seperti itulah nasib Sophie. Sebagai anak sulung, dialah yang harus mewarisi toko topi keluarganya, bersama ibu tirinya. Sementara itu, kedua adiknya, Lettie dan Martha dikirim ke tempat yang terpisah. Lettie, yang cantik jelita, dikirim ke toko kue Cesari. Sementara Martha belajar sihir di rumah Mrs. Fairfax.

Nasib buruk Sophie bertambah ketika, tanpa sebab tiba-tiba Nenek Sihir dari Waste berkunjung ke toko topinya, tampak membencinya, dan kemudian mengutuknya menjadi nenek-nenek!! Seakan belum bertambah sial, Sophie tiba-tiba "nyasar" di istana seorang penyihir jahat yang terkenal suka makan jantung gadis-gadis muda dan cantik. Tapi, Nenek Sophie nggak takut. Dia kan udah tua, bungkuk, dan jelek. Nggak mungkin lah si penyihir Howl (yang sangat tampan itu... kyaa~~) mau makan jantungnya.

Di istana bergeraknya (iya, istananya bisa jalan-jalan sendiri) Howl, Sophie bertemu dengan Calcifer (yang menurut pengakuannya merupakan jin api paling hebat) dan Michael (muridnya Howl, usia 15 tahun). Calcifer langsung tahu kalau Sophie kena kutukan mengerikan, dan Sophie juga dikutuk untuk nggak bisa memberitahukan kalau dirinya sedang kena kutukan kepada orang lain.

Calcifer menawarkan untuk menawarkan untuk mengangkat kutukan Sophie, asal Sophie juga cari cara untuk melepaskan Calcifer dari Howl. Yah, simbiosis mutualisme begitu deh...

Oh iya, saat itu Howl sedang pergi ke luar (mungkin lagi cari mangsa gadis-gadis muda dan cantik) jadi nggak tahu kalo Sophie masuk ke istananya. Tapi, begitu Howl pulang pun, sepertinya dia nggak keberatan ada Sophie disitu. Lebih tepatnya, mungkin dia nggak peduli ada Sophie apa nggak. Soalnya, dulu si Howl baru sadar kalo ada Michael disono aja setelah enam bulan. Enam bulan!! Bayangkan!! Hahahaa... Luar biasa menakjubkan emang si Howl ini.... xDD

Setelah tinggal di istana Howl, Sophie jadi tahu kalau Howl itu orangnya pemalas dan sangat cuek. Istananya tuh kotor luar biasa, sampe Sophie harus kerja bakti buat bersihin istananya itu. Selain itu, Howl juga pengecut dan ambegan. Tapi yang jelas, Howl itu sangat tampan.... O(>///<)O

Ternyata, Howl ini lagi dikejar-kejar sama penyihir jahat, yang nggak lain dan nggak bukan adalah.... Nenek Sihir dari Waste!! Yup, dia orang yang sama yang bikin Sophie jadi nenek-nenek!! Memang apa sih, yang diperbuat Howl sampe si Nenek Sihir ngejar-ngejar dia? Apa maunya si Nenek Sihir? Lalu, bisakah Sophie kembali ke wujudnya semula, yaitu seorang gadis muda berusia 18 tahun, si pembuat topi, yang doyan ngomong sama topi yang dia bikin?

Cari sendiri jawabannya di buku ini.... Saya nggak mau cerita banyak-banyak, takut spoiler. Soalnya saya suka banget sama ceritanya, jadi biar saya nggak cerita banyak-banyak, biarlah kalian menemukan jawabannya sendiri di bukunya... Hueheheheee...

Hhmm... Saya tahu "Howl's Moving Castle" itu sekitar beberapa tahun yang lalu, ketika saya baru mulai kuliah di prodi Jepang. Entah darimana asalnya, tiba-tiba saya nonton anime buatan Ghibli ini. Seingat saya, ini adalah anime Ghibli pertama yang saya tonton, dan saya langsung jatuh cinta... Jatuh cinta sama Howl yang tampan... Jatuh cinta sama Sophie... Dan... Jatuh cinta sama Ghibli....

Meskipun demikian, ketika itu saya nggak tahu kalau Ghibli ternyata mengadaptasi cerita ini dari novelnya Diana Wynne Jones. Jujur aja, ini adalah salah satu berkah gabung di Goodreads. Saya jadi tahu kalo "Howl's Moving Castle" ternyata berasal dari buku!! AHHAA!!

Cerita antara buku dan animenya cukup berbeda. Di animenya, ceritanya lebih fokus pada peperangan yang terjadi di dunia mereka. Sementara di bukunya, fokus pada kisah Howl dan masa lalunya. Kalo di animenya hubungan Howl dan Sophie lebih fokus dan sangat sangat maniiissss, di bukunya nggak terlalu banyak.

Salah satu penyebab saya suka cerita ini juga karena Sophie, sebagai tokoh utama wanita, nggak TSTL. Nggak galau milih vampir apa serigala (padahal mau dua-duanya). Nggak inosen2 amat sampe rasanya pengen jorogin dia ke depan odong-odong. Meskipun Sophie suka merasa rendah diri, tapi Diana Wynne Jones nggak terlalu menampilkan hal itu, nggak kayak cerita YA lain yang justru jadi kekuatan si heroine (yang bikin saya sakit kepala bikin pengen jambak rambut si heroine-nya terus saya jedot-jedotin kepalanya ke tembok saking nyebelinnya dia... -____-).

Di sini, Oma Diana justru menampilkan kelebihan Sophie, yang ternyata ceplas-ceplos kalo ngomong, makanya dia diubah jadi nenek sama si Nenek Sihir dari Waste xD, meskipun ada alasan laennya juga sihh.... Terus Sophie ini bisa dibilang justru merasa bersyukur diubah jadi nenek-nenek, karena dia jadi bisa menjalani kehidupan sesuai keinginannya. Dia jadi bisa pergi dari toko topinya, dan bertualang. Udah gitu, ternyata Sophie ini punya kemampuan sihir yang nggak terbayangkan sebelumnya. Pokoknya, saya suka deh sama Sophie ini...

Karakter lain yang juga jadi favorit saya adalah Howl. Di animenya, pengisi suaranya dia adalah KimuTaku!! Kyaakyaakyaaa.... Howl di anime dan di buku lumayan beda... Meskipun sama-sama narsis dan suka merajuk, tapi di animenya Howl itu baik banget... Beda sama di bukunya, yang pemalas, suka nyuruh-nyuruh orang, ngambeknya juga lebih parah, mana caper pula. Hahahaaa...

Tapi saya suka sama dua-duanya sih. Howl di anime dan di bukunya. Soalnya mereka sama-sama ganteng... #eh Kayaknya Howl jadi kandidat kuat book boyfriend tahun ini nih... HAAAHAAAHAAAAA

Sepertinya buku terjemahan bahasa Indonesianya agak-agak kurang bagus deh. Jadi nanti saya mau cari buku bahasa Inggrisnya (padahal dulu udah nemu, tapi ilang... huhuhuu TT___TT), terus baca ulang. Kayaknya sih, kalo saya baca ulang nanti, saya akan makin jatuh cintrong sama Howl. Awawawww

Dan... setelah membaca buku ini, saya jadi makin jatuh cinta sama gaya berceritanya Oma Diana....

PS. Tumben, kenapa ripiu saya pendek begini? Perasaan kemaren pengen curcol banyak deh... Tiba-tiba jadi mandeg aja nih otak... (●゚´Д`゚●)ノ゚ Yaudah deh, segini aja... Padahal perasaan masih ada yang pengen diceritain deh.. Tapi... Tapiiihhh.... Auk ah... -____-
Profile Image for Zulfy Rahendra.
285 reviews80 followers
September 6, 2017
Kalo bukunya ga dibalikin ke Batu Api gimana yha~~

SUKAAAAAAAA!!! AAAAAAAAKKK!!!

Dalam rangka mau ibadah ke pameran Ghibli di Jakarta, saya akhirnya ((( minjem ))) buku ini. I DOOOOO LOOOVVVEEEEE BOTH MOVIE AND THE BOOK. Saya tau cerita ini duluan filmnya. Dan Howl's adalah salah satu dari 20 film Ghibli favorit saya (semua dong, nyai?!). Suka ceritanya, suka Sophienya, suka Howlnya, suka Calcifernya, suka orang orangan sawahnya, anjingnya, moving castlenya, gambarnya, imajined world Ingarynya semuanyaaaaaaaaa~~~

Walaupun ceritanya agak beda antara buku sama film (kayaknya di buku lebih kompleks yha), tapi yaampun saya suka dua duanya ya ampuuun. Gambaran moving castle di filmnya bagus banget!

Pengen buku inii. Kok susah amat sih dapetnya?! :(
Profile Image for Raven.
472 reviews40 followers
September 15, 2008
Buku ini mendasari pembuatan anime terkenal dari Ghibli, Howl’s Moving Castle *sedang menahan diri untuk tidak memuji-muji dan malah mereview filmnya*

Review untuk edisi bahasa Indonesia:
(kalau sudah baca kedua edisi, boleh nggak sih memasukkan 2 buku yang sama di GR? )

Di Ingary, di mana sihir, kutukan, dan benda-benda ajaib dapat ditemukan, Sophie Hatter, anak sulung dari tiga bersaudari, merasa bahwa ia tidak memiliki peruntungan seperti kedua adiknya. Setelah ayahnya meninggal, ibu tirinya, Fanny, mengirim kedua adik Sophie, Lettie dan Martha, untuk magang di tempat lain sementara Sophie tinggal untuk membuat topi-topi. Ia ditakdirkan mewarisi toko topi peninggalan ayah mereka di Market Chipping, begitulah yang dipikirkannya. Karena itu ia tidak memiliki cita-cita tinggi seperti menikah dengan pangeran atau menjadi kaya-raya. Sophie melewatkan setiap harinya duduk di bagian belakang toko dan berbicara dengan topi-topi. Sementara Fanny melayani pembeli di toko. Demikianlah hari-hari yang membosankan berlalu.

Pada suatu hari seorang pelanggan yang tidak biasa muncul di toko, ia adalah Nenek Sihir dari Waste, penyihir yang sangat ditakuti di seluruh Ingary. Entah apa alasannya, si nenek sihir mengutuk Sophie menjadi nenek-nenek. Menyadari masalah yang akan muncul jika tetap tinggal di Market Chipping, Sophie terpaksa pergi diam-diam untuk mencari tempat tinggal lain. Setelah berjalan cukup jauh dan merasa lelah dengan petualangan singkatnya (maklum, tubuhnya sekarang sangat lemah), Sophie menemukan Istana yang terlihat sangat menyeramkan.

Istana itu dimiliki oleh Howl, penyihir jahat yang kabarnya senang memangsa jiwa gadis-gadis muda. Sophie tidak merasa takut padanya karena toh ia sudah tidak muda lagi. Sophie memilih untuk menghadapi sang penyihir daripada kedinginan di tempat terbuka. Saat memasuki istana, yang ditemuinya adalah anak muda sopan yang menjadi asisten Howl, Michael Fisher, dan jin api yang menggerakkan istana dan tinggal di perapiannya, Calcifer.

Calcifer mengizinkan Sophie untuk tinggal dengan suatu syarat, ia harus membantunya melepaskan kontrak yang mengikat Calcifer dengan Howl. Sophie harus mencari tahu sendiri isi kontrak itu, karenanya ia harus tinggal bersama mereka. Sophie memilih peran sebagai nenek tukang bersih-bersih dengan harapan Howl tidak akan mengusirnya keluar. Dan dimulailah kehidupannya yang baru, setiap hari berselisih dengan Howl yang tidak berperasaan, dan sedang berusaha merayu salah seorang adiknya, acara bersih-bersih Istana yang menimbulkan banyak kekacauan, dan masih banyak lagi.

Ternyata Howl sedang bermasalah dengan Nenek Sihir dari Waste yang ‘ditolak’ olehnya di satu sisi, dan di sisi lain ada Raja yang hendak menyuruhnya untuk pergi ke Waste untuk menemukan adiknya, Pangeran Justin, dan Penyihir Kerajaan, Sulliman. Howl sangat tidak ingin menghadapi si Nenek Sihir, karena itu ia menyuruh Sophie melakukan sesuatu agar Raja membatalkan niatnya mempekerjakan Howl.

Penyihir Howl –wikipedia menyebutnya sebagai seorang anti-hero – adalah seorang pemuda tampan berusia 27 tahun yang doyan merayu gadis-gadis. Kekuatan sihirnya sangat hebat, tetapi ia selalu menghindar dari melakukan pekerjaan yang tidak disukainya. Ketika sedang melaksanakan proyeknya ‘membuat seorang gadis jatuh cinta padanya’, ia tidak akan mempedulikan masalah lain yang terjadi di sekitarnya. Setiap hari ia menghabiskan waktu dua jam di kamar mandi untuk mewarnai rambut dan mengatur pakaiannya. Howl juga dikenal tidak mau membuat janji yang pasti. Walaupun begitu, pesonanya tetap ada…. Pesona seorang bad boy, kita sebut saja begitu ^^; Walaupun terlihat tidak peduli, tapi pada saat-saat tertentu Howl bisa menjadi sangat baik dan perhatian.

Apakah Sophie-dengan keberuntungannya yang pas-pasan, sifat cepat marahnya, serta bakat aneh yang dimilikinya- tahan berurusan dengan Howl? Apakah mereka akan dapat membantu memecahkan masalah masing-masing… dan juga masalah di antara mereka berdua?

Buku ini merupakan novel fantasi yang pantang dilewatkan!

Sayangnya, dengan plotnya yang berlapis dan rumit (di mana setiap tokoh memiliki masalahnya sendiri), walaupun sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, masih ada beberapa hal yang nggak kumengerti, untung berdiskusi dengan seorang teman bisa memperjelas permasalahan ^^;
Profile Image for Gus.
644 reviews62 followers
March 31, 2020
--- Howl's Moving Castle ~ Istana yang Bergerak ---
Plot: Berbeda dengan versi Ghibli.
Penokohan: Ok...(?)
Gaya bercerita: Ok... ... ... ...Hmmm...

Ini karya ke empat Mrs WynJones yang saya baca. Merupakan novel yang menjadi landasan adaptasi dari salah satu movie Ghibli dengan judul sama. Bahkan, sebenarnya jika membaca ulasan-ulasan yang ada di atas-atau-bawah saya, versi movie-nya memang sangat memikat banyak orang ya! XD

Tapi tenang saja! Versi novelnya menyuguhkan kisah yang memiliki landasan yang sama, tetapi di jalan yang berbeda!
Original dan adaptasi kan memang kadang seperti itu * w *.
Oh ya, baca sinopsisnya langsung, ya^^.


Eng, saya tidak bisa menyamakan ini dan versi Ghibli. Saya akan selalu memandang keduanya dengan berbeda, sekalipun saya menyertakan gif dari Howl Moving Castle versi Ghibli lol. Maka dari itu, tidak aneh kalau saya merasa kisah ini agak... terlalu terhentakkan.


Plotnya menurut saya bagus. Deskripsinya juga lebih ringan dan mudah dicerna daripada saat saya membaca seri Chrestomanci. Saya suka bagaimana Sophie, memiliki keteguhan untuk kembali ke sosok awalnya (atau mungkin sebenarnya tidak juga; tapi paling tidak dia masih mau bersusah payah mengingat kesepakatannya dengan Calcifier). Bagaimana Michael si magang memiliki gadis idaman sendiri, bagaimana sosok Howl yang memang pandai memperlakukan wanita tidak selalu, tapi kurang lebih, Calcifier, dan tokoh lainnya. Mereka semua menarik.

Bagian Penyihir dari Waste-nya juga tidak terduga (bagi saya). Saya agak suka di bagian situ o w o )d.

Sayangnya, poin yang menurut saya aneh adalah... saya merasa ini bukan tipe cerita yang pantas dibawa ke ranah roman lho. Sungguh. Meski saya bohong jika mengatakan tidak mengharapkan roman, tetapi yang saya harapkan tidak sekilat ini. Perasaan saya mirip-mirip dengan saat menonton Your Name. Saya tidak mudeng cinta mereka berawal dari mana, progressnya gimana, eh, tahu-tahu sudah suka. HM?! WAIT WHAT?!

Sinyal cinta saya sepertinya rada bobrok kadang-kadang.

Lalu, saya tidak bisa begitu bersimpati dengan Sophie. Sejauh saya membaca kisah ini, saya merasa Howl ini jelas baik hati di jalan yang aneh. Lalu Sophie nyaris 89% bersikap sangat dingin lho. Memang ada alasannya, tapi, kurasa saat kau tinggal dengan orang yang ternyata tidak mengusirmu saat sebenarnya kau patut diusir, harus ada pengecualian.
(Untung ada juga bagian dimana dia memang membela Howl saat dibutuhkan (Bukan, ini bukan tentang saat Sophie mesti berbicara pada Raja lol)).

Welp! Buku ini kadang lucu kadang menjengkelkan (biasanya karena Sophie atau hal lain yang mendekatinya), tapi saya overall menikmatinya^^.


Terakhir.
Entah ini terdengar sebagai hal yang baik, pujian, atau malah celaan. Tapi, jujur saja, membaca kisah ini membuat saya merasa kalau saya lebih harus menghargai Charmed Life atau paling tidak; tentu saja; The Lives of Christopher Chant.


Bahkan, saya masih lebih suka dan lebih mudah membayangkan kisah cinta Christopher dan Dew-- maksud saya-- Millie ketimbang Howl dan Sophie.


Oh ya.
Hampir lupa!
Saya selalu merasa Mrs WynJones selalu pandai membuat hubungan tokoh yang memikat. Meski di buku ini tidak terlalu, saya tetap bisa menghargai pasangan Howl dan Sophie karena mereka berdedikasi untuk bersama. EHEHE //apaansih.

Ps: Mrs WynJones ini... memang selalu pandai membuat bagian akhir yang sangat menyenangkan ya! Itu kurasa satu hal yang pasti! ^^
[7.1/10]
Profile Image for Ivon.
Author 1 book21 followers
June 22, 2011
Karena tidak bisa mendapatkan kasetnya (produced by Studio Ghibli), ak 'tak sengaja' menodong buku ini dari seorang teman.

Dan, aku puas, dan kalau ada sekuelnya, aku tidak keberatan untuk mengambil dan membacanya juga :D

Premis:

Sophie adalah anak sulung dari tiga bersaudara, di negeri yang menganggap peruntungan masa depan bagi anak sulung tidaklah bagus. Maka ia terbiasa didikte orang tuanya, oleh saudari-saudarinya, dan pasrah mode on saja waktu disuruh mewarisi toko topi dari ibu tirinya (bukan ibu tiri yg jahat, btw), tanpa pernah menerima gaji untuk dirinya sendiri.

Suatu hari (ya ampun betapa klisenya awalan paragraf ini), Sophie kedatangan tamu. Seorang ibu-ibu yang punya aura berbahaya yang tidak mengenakkan. Dia tidak datang untuk membeli topi, tapi untuk menyihir Sophie menjadi nenek-nenek tua (Sophie berumur sekitar 20-an, btw) karena dia, entah kenapa, menganggap Sophie sebagai tandingannya.

Padahal, Sophie tidak bisa sihir. Oh tidak, apakah ia jadi korban sihiran salah sasaran?

Dan menjadi nenek-nenek renta, pikiran Sophie ikut pikun dan tumpul. Sophie berpikir tidaklah baik mengganggu keluarganya dengan keadaannya tubuhnya begitu, maka ia mengambil perbekalan dan syal, menutup toko, dan mengembara keluar rumah, tanpa tujuan sama sekali dalam pikirannya.

Dan saat itulah, ia melihat kastil bergerak milik Penyihir Howl, penyihir (yang gosipnya) mengerikan dan suka mengoleksi "jantung" anak-anak gadis. Tak ada pilihan (lebih pada tindakan reflek tak terduga semata, menurutku) Sophie berlari dan menyuruh kastil itu berhenti.

Dan kastil itu berhenti. Sophie menemukan pintu masuknya, dan masuk ke dalamnya dan duduk di depan perapian ruang tamu kastil tersebut. Dan itu baru awal perjalanan Sophie di kastil bergerak, bersama Calcifer si jin api penggerak kastil, anak lelaki asisten Penyihir Howl yang bernama Michael, dan Penyihir Howl sendiri, yang wujud nyatanya berbeda 180" dengan gambaran yang Sophie dengar dan ketahui tentangnya.

Happy-happy-ending~

Dan aku suka cara kisah ini diceritakan: mendahulukan cerita itu sendiri daripada kelogisan setting dan plot ceritanya, and she's done it really well :D

Oh, dan terjemahannya lumayan bagus ;)
Profile Image for Gigrey Gigrey.
Author 8 books213 followers
July 4, 2021
Judul : Howl's Moving Castle
Penulis: Diana Wynne Jones
Halaman: 429

Siapa yang ga kenal animasi fenomenal garapan Studio Gibhli ini? Tapi apakah kalian tahu kalau animasi tersebut diangkat dari sebuah novel fantasi anak karangan Diana Wynne Jones?

Well, cerita di buku dan di animasinya sangat-sangat-sangat jauh berbeda. Dan aku akan mereview versi bukunya! Aku juga sangat suka dengan keseluruhan aspek cerita ini, mulai dari worldbuilding, karakter, hingga plotnya yang terasa magis.

Tapi yang paling menarik adalah bagaimana penulis bisa memberikan karisma tersendiri pada kisah romansa antara nenek 90 dengan pria flamboyan seperti Howl.

Sophie, gadis berusia 19 tahun yang disihir menjadi nenek berusia 90 tahun. Yang aku sukai dari karakter Sophie adalah dia berani keluar dari comfort zonenya. Yang dimana dia selalu merasa nyaman dengan toko topinya membuang semua ketakutannya untuk mencari penawar kutukan. Sophie berubah menjadi perempuan yang tangguh, pemberani, dan cerewet (kata Howl)

Dan ... (sigh) let's talk about Howl. Sudah dikenal oleh semua orang kalau sosok Howl adalah penyihir yang charming di film animasinya. Tapi di buku ini, sosok Howl akan lebih spesifik menjadi charming, narsistik, penakut, dan playboy cap badak. Kita nggak akan pernah tahu apa yang akan Howl lakukan selanjutnya. Benar-benar random banget bikin geleng kepala!

Howl sendiri adalah orang yang ga punya hati (literally!). Itulah alasan setiap yang Howl lakukan dia enggak mikirin perasaan orang lain. Salah satunya yakni hobi Howl untuk buat cewek-cewek jatuh cinta ke dia lalu ditinggalin. But! Dia selalu punya cara unik untuk bertahan hidup.


Untuk plotnya sendiri benar-benar di luar perkiraan. Hilangnya Prince Justin, Kutukan 10.000 hari Howl, dan Shopie yang selalu dikejar-kejar oleh Scarecrow ternyata saling berhubungan.

Siapa sangka, Howl yang kelihatan kerjaannya cuma ngejar-ngejar cewek sampe buat Sophie stress pun akhirnya bisa meluruskan benang kusut semua kutukan. He is such a normal hero with flaws.

"I'm a coward. Only way i can do something this frightening is to tell myself 'I'm not doing it'" mantra akhir Howl yang bikin aku terpingkal. Karena it's such a Howl! Kerjaannya mangkir mulu dari tugas tapi tiba-tiba selesai aja misinya.

(Spoiler) Di akhir kutukan Sophie terangkat. Howl jadi punya hati. Calcifer bebas. Dan Michael masih jadi anak suruh-suruhnya Howl. Happy ever after adalah sesuatu yang memuaskan. Terutama setelah semua kekacauan yang Howl dan Sophie perbuat. Lihat mereka bisa saling mengerti adalah kepuasan yang luar biasa.

Jelas ini bakal jadi buku favoritku dan akan kubaca berulang kali!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Cyn.
292 reviews11 followers
July 15, 2024
butuh imajinasi tingkat Neil Gaiman buat baca buku ini.. or simply just watch the film 🤣👍🏼

buku ini tntg Sophie, anak sulung dari pembuat topi di kota kecil di Market Chipping, Ingary, bareng adik" perempuan dan ibu tirinya. adik"nya mulai pergi dari rumah buat kursus dan kerja, sedangkan Sophie dididik buat ngelanjutin usaha topi. suatu hari ada Nenek Sihir dari Waste yg dateng ke toko topinya, trs tanpa disangka ngutuk Sophie jadi nenek" tua. Sophie ga tau alesannya, tp yg jelas Sophie ga bisa tinggal di situ lagi. akhirnya dia keluar dari rumah, dan dimulailah perjalanannya sampai ketemu sama kastil Howl.

kastil Howl ini terkenal serem, bisa jalan" keliling pulau karna dikendaliin sama jin api. Sophie nekat masuk ke kastil Howl, mengabaikan gosip tntg Howl suka makan jantung perempuan muda. Sophie pikir dia udah ga muda lagi, dan juga gapunya tujuan buat beristirahat malem itu. eh malah betah 🤣🙏🏼 Calcifer si jin api, Michael, dan Howl, semua ga keberatan, bahkan lgsg nerima Sophie, seakan Sophie temen lama yg tinggal di situ.

awal dan akhir cerita bagus. tp sekitar 200 halaman di tengah justru bosenin bgt. isinya : Sophie bersih" kastil, Howl bolak-balik mandi dan pergi, Sophie ngejahit baju Howl, Howl dan Sophie berantem. bosen. ak sampe sebulan lebih bacanya 😩😩😩 untung dikasih ending yg lumayan, seenggaknya emang ada ceritanya lah. 2/5⭐️ dari aku.

btw ak nonton filmnya juga tp baru separo. cukup byk ya bedanya sama novel, Michael hrsnya pemuda kyk Howl, eh di film malah bocil. scarecrownya juga uda baik di awal, pdhl di novel Sophie masih panik kalo liat scarecrow lompat" ngejar kastil. terusss, Sophie-Howl di novel berantem terus, ga ky di film yg super jaim 🤣
Profile Image for Cahyo Prayitno.
179 reviews
September 13, 2022
Pertarungan penyihir disini mengingatkan saya dengan pertarungan penyihir di film harry potter. Gumpalan asap, ledakan, cahaya dan sejenisnya. Namun vibe nya lebih ringan ketimbang cerita harry potter. Banyak adegan lucu di buku ini. Ceritanya mengasyikkan untuk diikuti dengan ending yang cukup memuaskan. Karakter2nya menyenangkan dan memorable. Sayang, saya sedikit terganggu dengan terjemahannya. Ada beberapa bagian yg menurut saya malah membingungkan.
25 reviews
June 27, 2016
Buku ini kubaca sehabis terpesona sama animated movie nya dari Studio Ghibli. Mengejutkannya, versi buku dan filmnya cukup berbeda namun keduanya tetap lovable.

Buku klasik ini memiliki penyampaian dan tatanan kata yang lumayan mudah dibanding buku klasik lain. Banyak kata-kata baru yang ku pelajari disini. Dengan karakter yang unik dan menyegarkan. Bayangkan, setelah dipenuhi dengan karakter-karakter mainstream di kebanyakan buku (apalagi YA) menurutku salah satu alternatif yang mudah adalah membaca buku Middle Grade.

Ada banyak unsur menarik dan unik disini. Dengan karakter utama yang tidak percaya diri akan hidupnya karena kepercayaan masyarakat. Ilusi yang diciptakan oleh penampakan luar dan rumor. Kekeluargaan dan persahabatan yang disusun harmonis dengan romance yang cukup. Di akhir cerita, aku tersenyum akan manisnya kisah ini.

Ini kisah bentuk dongeng dimana sesuatu yang magical akan terjadi! Dengan kejutan-kejutan dan humor yang menyenangkan. Buku dan filmnya sukses masuk ke list favorites ku.

Rating : 4.5 Stars
Profile Image for Rizkana.
252 reviews29 followers
March 25, 2025
"Sophie listened and felt sad. Interesting things did seem to happen, but always to somebody else."

Saya suka semua elemen buku ini!

Dari segi plot, memang agak berlapis dan hampir setengah cerita berlangsung baru pembaca diantar ke alur utama--kutukan Howl. Biar begitu, setengah cerita sebelumnya bukannya tanpa peran. Howl melakukan banyak hal untuk membantu banyak pihak, baik Sophie maupun Sang Raja. Saya juga menyukai bagaimana penulis menggerakkan alur cerita untuk karakter-karakter lainnya, yang ternyata saling terkait dengan Sophie dan Howl.

"'That's why I love spiders. If at first you don't succeed, try, try, try again. I keep trying,' he said with a great sadness."


Dari segi karakter, wah, saya tidak pernah menyangka akan menyukai karakter overdramatic Howl. Dia luar biasa extravagant, berlebihan, drama queen, tetapi juga lucu, perhatian, dan soft-hearted. Bagian ketika ia tantrum dan berubah menjadi green slime, mengesalkan sekaligus lucu sekali.

"Sophie's experience told her that tantrums are seldom about the thing they appear to be about."


Howl juga tidak malu menunjukkan perasaannya. Kalau takut, ya lari. Kalau suka, ya kejar. Kalau marah, ya all out marah-marahnya. Mungkin karena itulah, Howl cocok untuk Sophie--ia tidak akan mundur menghadapi Sophie yang sulit percaya.

"'Sophie, are you still not talking to me?" he asked miserably."


Karakter Sophie, mungkin agak menyebalkan awalnya, apalagi saat tergila-gila merapikan kastil. Biar begitu, masih bisa dimengerti, ia lahir sebagai anak pertama yang diharapkan dapat membantu tugas orangtuanya, baik untuk menjaga adik-adiknya maupun membantu merapikan rumah. Cara Sophie cemburu pun lucu. Hanya satu bagian yang memang agak mengganggu, yaitu ketika ia terus-menerus menganggap Howl melakukan semua untuk Miss Angorian. Duh. Saya sering dinilai tumpul emosinya, tetapi bisa langsung paham. Kenapa Sophie tidak? Mungkin karena ia juga tidak biasa memercayai dirinya sendiri selama ini.

"'Sophie!' he shouted. 'Quickly! What are we going to sell in that shop?'"


Dari segi latar cerita, saya kira latar cerita akan sepenuhnya berada di negara fiksi Ingary, ternyata ada sentuhan Welsh di sana. Untuk saya, latar belakang ini menarik karena seolah mengisyaratkan penyihir ada di dunia nyata, di tengah-tengah dunia kita. Kemudian, keempat pintu di kastil Howl yang menawarkan latar tempat berbeda-beda juga menambah keunikan elemen cerita.

Dari segi gaya penulisan, saya menikmati banter antara Sophie dan Howl. Banyak humor yang diantarkan penulis lewat dialog dan reaksi di luar prediksi karakternya, seperti di adegan Sophie yang berusaha mencemarkan nama baik Howl dan respons Sang Raja. Cara penulis mendeskripsikan masing-masing latar juga berhasil membawa pembaca ke dalam latar.

"'Well, he's fickle, careless, selfish, and hysterical,' she said. 'Half the time I think he doesn't care what happens to anyone as long as he's all right--but then I find out how awfully kind he's been to someone. Then I think he's kind just when it suits him. ...'"


Dari segi efek personal, sejujurnya saya cukup memahami karakter Sophie. Jadi, melihat perjalanan Sophie dan bagaimana akhirnya ia baik-baik saja, rasanya ikut memberi ketenangan untuk saya sendiri :'') Selain itu, tentu saja buku ini menghibur. Untuk saya, buku ini bisa ditamatkan dalam satu hari dan membuat semangat membaca terus menyala.

"Then she had suddenly been afraid she was just like Sophie: old, with no reason, and nothing to show for it."


Jadi, kalau boleh merekomendasikan, bacalah buku ini, apalagi kalau kamu sedang ingin membaca cerita fantasi dengan penyihir, kutukan, dan makhluk-makhluk ajaib lainnya dan tetap mengharapkan sedikit romansa ringan plus humor.

Ok, saya tutup ulasan ini dengan beberapa kutipan dialog Howl kepada Sophie. Semuanya diucapkan dalam adegan-adegan yang membuat kalimat ini manis, manis sekali.

"'Sophie!' Howl said in his most laughing, pleading way."

"'...I came to the conclusion that you liked being in disguise.'"

"'Sophie, are you still not talking to me?" he asked miserably."

"'I can't stay,' he said. 'I've got to rescue that fool Sophie.'"
Profile Image for R.A.Y.
294 reviews46 followers
November 7, 2020
Baca ini dalam keadaan lupa sama alur filmnya. As expected, the book is richer in details and plots. Filmnya kayak versi ringkas yg nge-highlight beberapa hal aja. Karakter Howl lebih terasa hidup di versi buku dan itulah yg memang saya cari saat memutuskan mau baca buku ini. As for the storyline, saya gak begitu paham karena gak konsentrasi penuh bacanya. Ada misteri dan hints yg mestinya bisa saya simak dgn lebih baik, tapi saya baca ini sebagai escapism aja jadi gak terlalu memperhatikan.

(Spoiler alert)
Agak ngerasa aneh sama akhir hubungan Howl dan Sophie. Harus banget gitu dibuat jadi pasangan dan "happily ever after"? Bener-bener di bab terakhir tiba-tiba aja mereka dibuat jadi couple, padahal selama belasan bab sebelumnya mereka sering bertengkar dan gak banyak tanda-tanda Sophie bersimpati sama Howl. Saya jadi heran bagaimana mereka berdua bisa tiba-tiba saling tertarik romantically.
Profile Image for Lina Maharani.
290 reviews15 followers
April 22, 2022
SOPHIE YANG GAGAL HOWL YANG SIAL

Pertama kali mengenal kisah Howl & Sophie dari tayang Ghibli dan sejauh yg ku ingat, di film itu Sophie sangat sibuk menyelamatkan dirinya dari Howl. Tapi ternyata di buku ini, bukan dia yang sibuk menyelamatkan diri dari istana Howl tetapi justru ia mempersiapkan pembebasan Howl.

Howl yang 'sial' dan Sophie yang merasa gagal krn kutukan bertemu & berbicara satu sama lain. Mereka adalah sosok yang banyak kita temui di dunia ini; orang2 gagal dan orang2 sial. Howl ternyata hanya perlu meyakinkan Sophie bahwa mrk bisa pulih bersama. Kehilangan keluarga, tak ada teman hingga tidak dipercaya adalah masalah yang sama bagi mereka. Momen di istana adalah saat Sophie melihat dirinya dalam diri Howl; terlalu acuh pada diri sendiri.

Ps; terjemahan versi buku ini kurang begitu bagus jadi saya harus beberapa kali memikirkan ulang kalimat-kalimatnya. selebihnya, oke lah.
Profile Image for Alayayaw.
20 reviews
November 17, 2024
Rating dari aku 4.5!
🌟🌟🌟🌟

Seperti kebanyakan orang kenal Howl dari filmnya, aku juga sama. Cumaaaa aku belum pernah nonton filmnya sama sekali, dan berhubung aku lebih suka baca daripada nonton, jadi aku baca bukunya dulu!

Konsep Moving Castle yang diangkat Diana cukup menarik, untung sudah ada gambarnya di cover. Kalau nggak mungkin cukup susah ngevisualisasiin di kepala😅. Untuk penokohan tokohnya sendiri terbilang bagus, maksudnya relate sama kehidupan nyata meski buku ini buat anak-anak (biasanya kan dibuat lebay kalau untuk anak-anak biar kayak fairytale). Berhubung aku kan baca terjemahannya ya, dan agak membingungkan, jadi aku nggak bisa bilang penulisannya atau terjemahannya yang nggak enak dibaca. Pokoknya di awal-awal cerita, untuk beberapa bagian sendiri banyak yang bikin bingung. Bagian paling memuaskannya itu di ending sih, untungnya, jadi setelah berlembar-lembar halaman kerasa worth it bacanya! And now i need to watch the film!
Profile Image for Mash.
37 reviews
October 13, 2020
Akhirnya selesai jugaaa!! Dan sekarang aku makin cinta Howl!!!
Dari awal baca buku ini aku udah diwanti-wanti biar nggak ngebandingin sama filmnya Ghibli. Tapi apa daya, aku suka banget sama filmnya, jadi auto keinget dong pas baca :')
Kalau dari alur, aku lebih suka alur yang ada di novel. Jelas banget. Dan yang aku suka di novelnya Howl nggak berubah jadi burung. Aku gak suka Howl dalam wujud burung!
Buat tokohnya, penggambaran Howl di novel lebih misterius dan menawan. Sophie juga jadi galak banget tapi baik banget.
Overall, walaupun detail cerita film dan novel jauh beda. Tapi kalau niatan awal baca/nonton nya kayak lagi menikmati cerita canon nya, tetep bakal kerasa seru dan bagus. 5/5 menurutkuu
1 review
August 11, 2025
Alur cerita sangat seru dan menarik. Membuat pembaca selalu berimajinasi saat membaca novel ini. Apalagi saat Shopie akan menemui penyihir tersebut.
Profile Image for Annisa Anggiana.
283 reviews53 followers
January 8, 2012
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 327 Halaman

Saya suka banget sama film2nya Studio Gibli terutama kalo yang bikinnya Hayao Miyazaki. Ceritanya selalu semi absurd, semi magis, tapi bagus dan kadang bikin terharu. Ngga ada perasaan yang digambarin secara eksplisit tapi selalu kerasa. Tipe cerita atau film yang saya suka banget lah.

Howls Moving Castle ini is one of my fave.. Negeri yang menjadi latar cerita bernama Ingary..

“Di Ingary, negeri tempat hal-hal seperti sepatu bot ajaib dan jubah yang bisa membuat orang menghilang benar-benar ada, agak kurang beruntung bila kau dilahirkan sebagai sulung dari tiga bersaudara. Semua orang menganggap anak tertua akan paling dulu mengalami kegagalan dan paling merasakan keburukan bila ketiganya pergi mencari keberuntungan.”

Tokoh utama kita bernama Sophie yang sayangnya adalah anak sulung dari tiga bersaudari. Sophie memiliki dua adik perempuan bernama Lettie dan Martha. Ayahnya adalah seorang pemilik toko topi di sebuah kota bernama Market Chipping. Ibu kandungnya meninggal ketika Sophie dan Lettie masih kecil. Ayahnya kemudian menikah lagi dengan seorang wanita cantik bernama Fanny. Dan tiga bersaudari itu dilengkapi dengan hadirnya Martha.

Ketika ketiga bersaudari itu beranjak remaja, ayah mereka Mr. Hatter meninggal dunia. Ternyata toko topi sedang berada dalam kondisi buruk sehingga Sophie dan Lettie harus berhenti sekolah. Hanya Martha yang diizinkan Fanny untuk tetap bersekolah. Setelah itu Fanny mengatur agar Lettie bekerja di salah satu toko kue di Market Chipping dan Sophie membantunya di toko topi.

Pada masa2 itu, ada dua penyihir yang sedang tenar di Ingary. Satu adalah si Nenek Sihir dari Waste yang ingin mencelakai keluarga kerajaan. Dua adalah Penyihir Howl yang memiliki istana bergerak. Ya, istana Penyihir Howl tidak pernah diam di satu tempat. Dan kabarnya Penyihir Howl gemar menculik gadis2 muda dan memakan jiwa mereka.

Ternyata Sophie memiliki bakat untuk mendesain topi. Topi2 yang dibuat Sophie kabarnya dapat membawa efek khusus pada wanita yang memakainya sehingga terlihat lebih cantik. May Day adalah salah satu hari perayaan khusus di Market Chipping. Di hari itu Sophie menutup toko dan pergi menemui adiknya di toko kue chesari. Sekembalinya ke toko Shopie didatangi oleh seorang wanita yang sangat cantik, namun berdandan sedemikian megah sehingga terlihat menakutkan.

Sang perempuan pada awalnya berlagak mencoba2 topi. Ketika tidak ada yang cocok dan perempuan tersebut mulai mengeluh Sophie mulai kehilangan kesabaran. Akhirnya sang perempuan membuka jati dirinya sebagai Nenek Sihir dari Waste dan menuduh Sophie telah mencampuri urusannya. Sophie merasa itu adalah sebuah kesalahan karena ia sama sekali tidak mengetahui apa yang si Nenek Sihir bicarakan. Namun Nenek Sihir dari Waste tetap tidak mau mendengar dan berkeras menghukum Sophie.

Setelah Nenek Sihir itu pergi alangkah terkejutnya Sophie ketika mendapati bahwa dirinya telah disihir menjadi nenek2 tua. Sophie memutuskan bahwa dengan penampilannya yang seperti itu ia tidak mungkin tetap tinggal di toko topi. Fanny tidak akan mengerti. Akhirnya Sophie memutuskan pergi mencari peruntungannya sendiri, ia pergi dari toko topi tanpa tahu akan kemana.

Di perjalanan Sophie sempat menolong seekor anjing yang ternyata di masa yang akan datang akan memainkan peran dalam hidupnya. Setelah itu ia melihat istana Penyihir Howl sedang bertengger di sebuah bukit. Sophie memutuskan untuk pergi kesana dan meminta bantuan Penyihir Howl untuk merubahnya kembali.

Dengan usaha yang tidak mudah Sophie berhasil masuk ke istana tersebut. Dua penghuni yang ia temui adalah seorang anak bernama Michael yang mengaku sebagai murid Penyihir Howl dan api tungku yang bisa berbicara bernama Calcifier. Ternyata Calcifier adalah sebangsa jin yang membuat istana selalu bergerak. Calcifier membuat kontrak dengan Penyihir Howl yang membuatnya terikat untuk tetap membuat istana itu bergerak.

Sophie berjanji pada Calcifier untuk membantu mencari cara membebaskannya dari kontrak Penyihir Howl jika dirinya diizinkan tinggal disana. Mulai dari saat itu Sophie menjadi salah satu penghuni istana bergerak Penyihir Howl dengan penyamaran sebagai pengurus rumah tangga baru.

Apakah yang akan terjadi ketika Sophie bertemu Penyihir Howl? Kenapa Nenek Sihir dari Waste menuduhnya mencampuri urusan sang Nenek Sihir? Berhasilkan Shopie kembali ke wujud aslinya? I Looveee how the story goes in the end.. Love the movie.. Love the book..
Profile Image for Shabrina Nova.
88 reviews
January 21, 2024
Yang suka nonton film ghiblinya Howl's Moving Castle, bisa banget baca novelnya juga~ Banyak hal yg beda banget di antara film dan buku; mulai dari karakter tokoh-tokohnya, sampe jalan ceritanya!

Aku pribadi lebih suka versi bukunya sih (walaupun filmnya pun bagus, hangat!), karena lebih banyak petualangannya dan kisah cintanya tuh tipis-tipis aja (tetep romantis sih dikit). Aku juga suka banget karakter Howl di buku, tengil banget tapi diem-diem perhatian😢 Sophienya pun digambarkan emang tua, jalannya terseok-seok gitu dan sering kecapean, jadi penggambaran nenek-neneknya dapet bgt! Di novelnya juga menurutku musuhnya lebih kuat gitu jahatnya, jadi perasaan takut dikejar-kejarnya tuh berasa😬

Cuma, aku kurang suka cara penulisan di bukunya sih, suka lompat-lompat dalam penceritaannya. Jadi, kayak ga fokus dan detailnya kepencar-pencar. Selain itu, banyak detail cerita yang diceritainnya implisit, jadi sering dibuat bingung sama isi ceritanya. Perlu beberapa kali bolak-balik bukunya buat paham isinya..😅

Intinya, complicated tapi worth it kok buat dibaca!
Profile Image for cindy.
1,981 reviews160 followers
July 23, 2009
Untuk kategori buku anak-anak, ini adalah buku "tersulit" yang pernah kubaca. Sangat khas DWJ. Kisahnya lumayan ringan, tapi dengan karakterisasi tokoh kuat. Tidak adanya narasi deskriptif panjang lebar malah semakin asyik karena digantikan dialog-dialog singkat, padat, kadang terkesan asal, tetapi sebenarnya punya arti tersembunyi.

**Spoilers begin**
Adalah Sophie Hatter, si sulung dari 3 bersaudara perempuan putri pemilik toko topi di Market Chipping. Ketika sang ayah meninggal, Sophie kebagian menjaga toko topi ini, sedangkan Lettie adiknya dikirim bekerja ke toko kue Cesari dan si bungsu Martha pergi belajar sihir pada Mrs. Fairfax. Kekacauan pertama terjadi, Lettie dan Martha yang sama-sama tidak puas, sepakat bertukar tempat. Martha pergi sebagai Lettie, si pelayan di toko Cesari, sedang Lettie pergi berguru kepada Mrs. Fairfax. Mrs. Fairfax langsung mengetahui pertukaran ini, dan tetap memanggil muridnya dengan nama aslinya, Lettie. Alhasil ada 2 gadis bernama Lettie Hatter.

Di lain peristiwa, Raja mengirim Penyihir Kerajaan Sulliman untuk mengalahkan si Nenek Sihir dari Waste, tetapi bukannya berhasil Sulliman malah menghilang. Pangeran Justin, adik Raja yang bersahabat dengan Sulliman bertekad mencarinya. Dalam pencarian ini, ia bertemu Lattie si murid penyihir untuk mencari petunjuk. Tetapi setelah mengikuti petunjuk itu, ia juga menghilang tanpa bekas. Ternyata Nenek Sishir Waste terusik juga dengan kemampuan Lettie, sehingga ia ingin membalas dendam pada "si gadis Hatter". Malang bagi Sophie, ia yang terkena kutukan ini.

Sophie yang sudah berubah menjadi nenek-nenek tua bertekad mencari peruntungannya, alih-alih pergi ke mana, ia malahan berjalan ke arah Istana bergerak milik Penyihir Howl, yang gosipnya kejam dan suka memakan "hati" gadis-gadis muda. Di sana ia malah bersahabat dengan Calcifer si Jin Api (yang berjanji mengangkat kutukan Sophie bila ia mampu membatalkankan kontraknya dengan Howl) dan Michael, murid Howl (yang jatuh cinta pada Lettie yang sebenarnya Martha). Ia juga jadi tahu bahwa Howl tidak kejam, tapi "hanya" penyihir muda yang sangat hebat tapi malas bekerja keras dan suka merayu para gadis hingga jatuh hati padanya kemudian meninggalkan mereka.

Dengan semua resep kekacauan ini, ditambah dengan banyak kutukan dan petunjuk-petunjuk tak disangka, berbagai jenis anjing dan orang-orangan sawah, gitar dan tengkorak, plus satu istana dan 4 pintu ajaib serta 2 dunia, Howl's Moving Castle menjadi kombinasi mengesankan untuk cerita fantasi.

***

Yang sedikiiiiit kurang enak adalah penterjemahan yang dilakukan. Kosa kata castle dan palace sama-sama ditranslasikan menjadi istana, demikian pula witch dan wizard yang jadi penyihir. Demikian pula kata heart yang sering bertukar-tukar arti antara hati dan jantung, i.e petunjuk Calcifer pada Sophie, "Howl is pretty heartless, you know" (Howl yang suka mempermainkan para gadis dan Howl yang benar-benar sudah tak punya jantung). Sepertinya jauh lebih asyik kalau dibaca versi aslinya, karena banyak permainan kata-kata dalam dialog yang sulit terakomodasi dalam proses penterjemahan ini.
Profile Image for Lina.
291 reviews24 followers
September 3, 2009
Sophie Hatter hanya seorang gadis biasa yang tidak percaya diri yang bekerja di sebuah toko topi tua milik keluarganya. Kehidupannya sangat biasa-biasa saja dan cenderung membosankan dibanding kedua adik perempuannya yang kehidupannya lebih menarik dengan masa depan menjanjikan.

Hingga suatu hari datanglah seorang nenek sihir ke tokonya dan entah mengapa si nenek sihir ini tiba-tiba mengutuk Sophie menjadi seorang nenek tua berumur 90 tahunan dan Sophie benar-benar tidak mengerti apa yang telah dia perbuat sampai ada seorang nenek sihir yang tiba-tiba datang dan mengutuknya tanpa sebab.

Dengan wujud seorang nenek tua renta berumur 90 tahunan, tidak mungkin bagi Sophie untuk tetap tinggal di rumahnya dan terus melanjutkan hidup normalnya, karena itu dia memutuskan untuk keluar rumah dan mencari tempat dimana dia bisa berlindung.

Satu-satunya tempat yang terpikirkan oleh Sophie hanya sebuah istana bergerak milik penyihir Howl. Banyaknya kabar buruk mengenai penyihir Howl membuat orang-orang tidak ingin dekat-dekat dengan istana bergerak tersebut, hal ini bagus untuk Sophie yang tidak ingin kutukannya sampai diketahui orang lain apalagi keluarganya. Rumor mengatakan kalau penyihir Howl suka membunuh para gadis muda untuk mengoleksi jiwa-jiwa mereka. Namun bagi Sophie dengan wujud nenek tua renta yang penyakitan, tidak ada masalah lain lagi yang dapat membuatnya takut. Bahkan ia berpikir mungkin saja dengan kesaktiannya, penyihir Howl dapat membantunya membebaskan kutukan si nenek sihir.
___________________________________________________________________________
Saya benar-benar butuh usaha untuk dapat menyelesaikan membaca buku fantasy tipis ini. Saya tidak bilang bukunya jelek, hanya saja mungkin interpretasinya, pendeskripsiannya yang ribet atau mungkin terjemahannya yang membuat saya tidak bisa menikmati buku ini sebagaimana adanya (tapi menerjemahkan itu sulit, karena itu saya rasa tidak bijak mengkritik tajam terjemahannya). Overall ide ceritanya menarik, bahkan kalau dilihat dari tahun penerbitannya di Inggris yaitu tahun 1986, rasanya buku ini bisa menjadi inspirasi bagi para british author masa kini dalam menulis novel fantasy mereka. Sebut saja jubah gaib yang bisa membuat orang menghilang, siapapun yang pernah membaca Harry Potter pasti sangat tau dengan jubah tersebut. Atau disini penyihir Howl ternyata juga menggunakan bantuan jin dalam menjalankan beberapa aktivitas sihirnya dan sepatu bot ajaib yang bisa membuat pemakainya melangkah hingga berkilo-kilo meter, fans TBT mungkin akan merasa familiar dengan hal tersebut.

FYI, novel ini juga ada film animasinya dengan judul yang sama, karya salah satu sutradara animasi terkenal di Jepang sekaligus salah satu sutradara favorit saya, beliau adalah Hayao Miyazaki, yang karya-karyanya sangat populer di dalam dan luar Jepang. Bahkan salah satunya ada yang pernah memenangkan piala Oscar. Bagi yang ingin melihat visualiasasi novel yang cenderung ribet dan imajinatif, sepertinya sangat disarankan untuk menonton animenya. Saya pun akan menontonnya.
Profile Image for Natalis.
1 review5 followers
September 11, 2010
Hal pertama yang mau saya katakan: terjemahannya mengecewakan sekali.

Saya tahu buku ini sudah terbit dari beberapa waktu yang lalu, tapi baru kemarin sempat membeli dan membacanya. Terdorong keingintahuan karena baru-baru ini saya menonton ulang versi animenya yang lagi-lagi dikerjakan oleh Studio Ghibli. Sayangnya di buku ini, jelas sekali si penerjemah kurang pengalaman dalam menerjemahkan. Di paragraf-paragraf terntentu saya bisa merasakan kalau dia mulai malas dengan kerjaannya dan mengartikan asal saja, terlalu harfiah, nggak berusaha merangkai kata yang dapat dipahami pembaca Indonesia tanpa melenyapkan kekhasan gaya bahasa Inggris. Ia juga nggak bisa menyampaikan emosi-emosi yang terselubung dalam berbagai kalimat tertentu yang saya yakin seharusnya memberikan dampak kuat bagi para pembaca dalam bahasa aslinya. Jadi dengan sukses dia menyulap adegan lucu jadi hambar, kalimat-kalimat cerdas jadi kumpulan kata tanpa arti dan plot cerita jadi nggak jelas juntrungannya ke mana. Waduh.

Dan saya yakin akan penilaian saya ini bahkan sebelum saya membaca yang versi aslinya. Kenapa?

Diana Wynne Jones sendiri sebagai sang pengarang sangat dihormati dan diakui di negara asalnya, jadi saya yakin ketidaknyamanan membaca saya kebanyakan adalah salah sang penerjemah. Dan bahkan dengan terjemahan seburuk itu saya masih bisa mengatakan bahwa buku ini sangat menghibur dan menyenangkan untuk dibaca.

Plotnya jauh berbeda dengan film, tapi kedua versi sama bagusnya. Karakter-karakter versi film ternyata banyak yang diubah penampilannya, seperti Sophie, Witch of the Waste, Michael (jadi Markl di film,) dan Suliman. Disini juga jumlah karakter yang memainkan peran masing-masing ada lebih banyak.

Hal yang membuat saya suka pada buku ini adalah keunikan cerita dan twist-twistnya. Walaupun termasuk bacaan ringan, saya tahan juga nggak meletakkan buku ini sebelum halaman terakhir. Keputusan Jones untuk nggak menjelaskan beberapa hal krusial dalam bukunya (seperti deskripsi total tentang cara sihir bekerja dan cara Howl berpindah antar dunia,) juga merpakan hal yang baik menurut saya. Hal itu membuat kita nggak hilang arah dari cerita utamanya, dan meninggalkan beberapa bagian cerita untuk kita imajinasikan sendiri, meskipun saya mungkin akan lebih senang kalau hal-hal tersebut ia jelaskan. Twistnya mengagetkan dan datang di saat yang tepat. Sudah lama saya nggak membaca buku dengan twist pintar seperti ini, jadi saya senang juga.

Jones juga piawai dalam menggambarkan keunikan sifat para karakternya dan menyusun puzzle yang petunjuknya ia jatuhkan di kalimat-kalimat tertentu (tentu saja semuanya dikacaukan dengan jasa sang penerjemah yang nggak berusaha terlalu keras untuk memahami isi cerita ini.) Ide-ide kreatif bertebaran dimana-mana. Saya rekomendasikan ke siapa saja yang suka fantasi, tapi BACA BAHASA ASLINYA SAJA.
Profile Image for Pris.
468 reviews38 followers
April 17, 2010
Awalnya tertarik, karena gue kebetulan tau bahwa memang ada film animasi Jepang berjudul sama, dan film ini diapresiasi bagus dan sukses besar di negerinya. Tapi gue sama sekali nggak nyangka, ternyata film ini diangkat dari sebuah novel. Bukan oleh penulis Jepang pula, melainkan penulis Inggris!

Sophie Hatter merasa dia tidak akan pernah sukses dalam hidupnya, karena dia anak sulung dari tiga bersaudara. Karena seperti yang juga kita ketahui dari dongeng-dongeng klasik, setiap kali ada tiga bersaudara pergi mencari peruntungan bersama-sama, anak sulung selalu kebagian sial pertama kali, sedangkan anak bungsu selalu jadi yang paling sukses dan berhasil, entah dia membangun rumah dari bata sehingga tidak bisa ditiup roboh oleh serigala (dalam cerita tiga babi kecil) maupuan mengelabui Kematian dengan Jubah Gaib (Kisah Tiga Saudara—Tales of Beedle The Beard. Oke lah gue tahu cerita ini dibuat lebih belakangan, tapi toh idenya sama). Sophie pun menganggap dirinya akan bernasib demikian, jadi dia tidak pernah berharap macam-macam tentang masa depannya. Ketika sang ayah meninggal dan sang ibu tiri mengirim dua anak gadisnya yang lain magang di berbagai tempat, Sophie pasrah saja tetap dipekerjakan di toko topi peninggalan sang ayah, bosan dan kesepian hanya ditemani topi-topi yang harus dihiasnya. Hidupnya baru berubah total ketika sekonyong-konyong Nenek Sihir dari Waste, penyihir terkejam di seluruh negeri Ingary, datang ke toko topinya dan mengutuk Sophie menjadi menjadi nenek tua. Saat inilah Sophie memutuskan sudah waktunya dia mencoba mencari peruntungannya di dunia luar.

Istana bergerak penyihir Howl sudah beberapa waktu menghantui kota Sophie di Market Chipping. Istana ajaib itu mampu berpindah-pindah tempat, dan konon Penyihir Howl yang meninggalinya adalah pria jahat yang gemar memangsa jiwa gadis-gadis muda dan memakan jantung mereka. Sophie, yang setelah dikutuk menjadi tua sifatnya pemalunya berubah menjadi usil dan cerewet, tanpa malu-malu dan tanpa diundang ngeloyor masuk ke dalam istana itu, bahkan menolak untuk diusir. Di dalam dia bertemu Michael, anak magang Howl, dan Calcifer, sesosok jin api yang bekerja pada Howl. Calcifer menawarkan perjanjian pada Sophie, apabila gadis itu mampu membatalkan sebuah kontrak yang mengikat si jin api dengan si penyihir, si jin api bersedia ...more
Profile Image for Emilya Kusnaidi.
Author 3 books41 followers
September 23, 2014
My all time favourite!

Pertama kali tahu Howl's Moving Castle dari anime-movienya yang keluaran dari Studio Ghibli. Membekas banget, dan kemudian setelah tahu ternyata ceritanya diangkat dari novel, saya langsung mencarinya di toko buku terdekat (dan ternyata susahnya setengah mati karena bukunya udah lama banget).

Dan, surprisingly, saya suka dengan cerita aslinya. Suka sekali dengan penggambaran dunia yang jelas tapi di saat yang bersamaan, nggak mematikan fantasi pembaca. Penggambaran Howl juga sedikit berbeda dengan di anime, tapi saya malahan tambah suka dengan penyihir satu ini. Saya juga suka banget dengan Sophie yang gigih, dan Markl, dan semuanya deh!

Ada beberapa bagian pula yang berbeda dengan anime, dan cukup signifikan. Untuk penggemar garis keras studio Ghibli, mungkin lebih menyukai ending yang dibuat oleh Ghibli karena lebih mengharukan. Tapi, saya cukup bahagia dengan ending di novel yang lebih romantik dan manis.

jadi, lima bintang saya berikan karena saya suka banget dengan buku ini! This is definitely a must read book!
Profile Image for Rie_dominique.
665 reviews66 followers
May 20, 2013

Sophie Hatter tinggal di negeri dimana sihir adalah kenyataan sehari-hari. Tapi itu bukan berarti Sophie seorang penyihir. Ia hanyalah anak pertama dari 3 bersaudara dimana ayahnya adalah pemilik toko topi. Dan seperti yang kita ketahui didalam dongeng-dongeng, anak pertama adalah seorang yang selalu gagal dan anak bungsu-lah si peraih kejayaan.

Ketika ayahnya meninggal, Fanny si ibu tiri mengirim Martha si bungsu untuk magang di tempat seorang penyihir. Diharapkan Martha bisa membangun koneksi dengan kenalan-kenalan si penyihir dan dapat mengangkat derajatnya lebih tinggi.

Letti si anak tengah dikirim magang ke toko kue dikota. Darinya diharapkan bertemu dengan pemuda baik-baik, menikah dan membangun rumah tangga bahagia.

full review klik disini
Profile Image for Ordinary Dahlia.
284 reviews
January 29, 2010
Menurut g, buku ini nggak jelek tapi juga nggak bagus2 amat. Jadi g kasih bintang 2,5 tapi karena nggak bisa ngasih segitu...ya d bulatkan aja.

G suka awal-awalnya, tapinya makin lama makin berputar-putar tokoh ma ceritanya. Agak terlalu berlebihan rasanya.

Ya...begitu deh *jelas ogah bikin repiu*
Profile Image for Okta Wiguna.
17 reviews6 followers
May 13, 2011
Baca ini sebelum nonton versi animasi buatan Hayao Miyazaki dan jelas lebih suka versi bukunya. Pesan soal kesabaran dan kepercayaan diri yang kuat tidak terlalu muncul di animasinya. Ini karya yang paling keren dari Diana Wynne Jones. Rating bintang tidak penuh karena ada satu blunder penerjemahan di bab akhir yang penting. Selebihnya, sangat layak baca.
Profile Image for Eka.
68 reviews12 followers
July 31, 2013
Ho..ho....suka banget ma pertengkaran Howl ma nenek Sophie yang cerewet.
Apalagi cara Sophie menyangkal perasaannya sendiri.

Ada perbedaan di sana sini sama filmnya yang dibikin ma Gibli tapi buku ini jadi memperjelas latar belakang cerita film terutama alasan kenapa Sophie dikutuk jadi nenek-nenek dan latar belakang Howl yang mengejutkan.

Profile Image for Seplucid.
70 reviews11 followers
May 21, 2016
Ajaib!! tapi membingunkan. Banyak kalimat yang ga pas di pikiran. Salahkan otak dan mood saya! Banyak hal-hal manis baik di sepanjang petualangan Shopie Hatter si anak sulung.

"Tidak juga, aku pengecut. Satu-satunya jalan aku bisa melakukan sesuatu sengeri ini adalah dengan mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak melakukannya!"
-Howl (p. 316)
Profile Image for Anggia.
159 reviews23 followers
August 17, 2009
Suka ama buku ini...
Aku suka ngeliat perkembangan tokoh sophie di buku ini yang awalnya anak yang pasif 'hanya menerima apa adanya' sampai mulai berubah dan berani
Aku juga suka banget banget ama Howl, padahal awalnya dikira jahat ternyata, wah baca aja sendiri deh
Displaying 1 - 30 of 44 reviews