imfayaa__
Sebagai anak kedua di Kekaisaran Astheria, Elena menghabiskan hidupnya di bawah bayang-bayang kakak laki-lakinya yang merupakan pewaris takhta. Namun, saat perang saudara mulai mengancam stabilitas, ayahnya mengambil keputusan mutlak bahwa Elena akan dikirim ke Kerajaan Xandros sebagai jaminan perdamaian.
Di usianya yang ke-18, ia terpaksa terikat pernikahan politik dengan Putra Mahkota Xandros, Cassian, yang baru berusia 12 tahun. Elena tidak hanya harus menghadapi rasa terasing di wilayah musuh, tetapi juga harus menghadapi tingkah laku Cassian yang seringkali mencampurkan antara otoritas seorang penguasa dan kemanjaan seorang bocah.
___
Suasana di pemandian istana terasa pengap oleh uap air hangat. Elena berdiri di sana dengan gaun yang terasa berat, menatap Cassian yang duduk di tepi bak mandi marmer besar.
"Elena," panggil Cassian kecil tanpa menoleh, suaranya berusaha terdengar berwibawa meski nada kekanak-kanakannya belum hilang sepenuhnya. "Mandikan aku. Pelayan bilang itu tugas istriku sekarang."
Elena terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam rasa jengkel yang membuncah di dadanya. Bukannya mengambil spons atau air, Elena justru melangkah maju dan mengangkat kipas lipat cendana miliknya.
Dengan gerakan cepat dan terukur, ia mengetukkan ujung kipasnya kencang tepat ke dahi sang Putra Mahkota.
"Aduh!" Cassian memegangi dahinya, menatap Elena dengan mata bulat yang terkejut. "Kau... kau berani memukulku? Aku ini calon Raja!"
Elena melipat kipasnya dengan suara yang tajam, wajahnya tetap tenang meski matanya menyiratkan ketegasan.
"Dan aku adalah istrimu, Yang Mulia Putra Mahkota," sahut Elena ketus. "Memiliki mahkota bukan berarti Anda kehilangan tangan untuk membasuh diri sendiri. Jika Anda ingin diperlakukan seperti Raja, mulailah dengan tidak bersikap seperti bayi yang baru bisa bicara."