Imam Abu Hâtim Ibnu Hibbân rahimahullah mengatakan,

مَثَلُ الأَحْمَق إن صَحِبته عنَّاك، وإن اعتزلته شتمك، وإن أعطاك مَنَّ عليك، وإن أعطيته كفرك، وإن أسرَّ إليك اتَّهمك، وإن أسررت إليه خانك، وإن كان فوقك حَقِرَك، وإن كان دونك غمزك.

Contoh orang yang dungu adalah,

Jika kamu berteman dengan dia, kamu akan dibuat capek dengan kelakuannya. Namun, jika kamu menjauh, dia akan mencelamu.

Jika dia memberi sesuatu kepadamu, dia akan ungkit-ungkit pemberian itu. Namun jika kamu yang memberi, ia akan mengkufurimu (ingkar lagi tak tahu budi).

(lebih…)

Berkata Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala:

” وهاهنا دقيقة قل من يتفطن لها إلا فقيه فى هذا الشأن وهى: أن كل تائب لا بد له فى أول توبته من عصرة وضغطة فى قلبه من هم أو غم أو ضيق أو حزن، ولو لم يكن إلا تألمه بفراق محبوبه فينضغط لذلك وينعصر قلبه ويضيق صدره.

فأكثر الخلق رجعوا من التوبة ونكسوا على رؤوسهم لأجل هذه المحنة …. ولكن إذا صبر على هذه العصرة قليلا أفضت به إلى رياض الأنس وجنات الانشراح، وإن لم يصبر لها انقلب على وجهه. والله الموفق لا إله غيره ولا رب سواه ” .

“Di sini ada permasalahan yang perlu dicermati. Sedikit sekali orang yang memahaminya kecuali orang yang dalam keilmuannya untuk masalah ini.

Permasalahan tersebut adalah:

Bahwasanya setiap orang yang bertaubat pastilah di awal taubatnya dia akan merasakan sesak dan tertekan.

Di dalam hatinya ada keresahan, gundah gulana kesempitan dan kesedihan.

Kalau seandainya tidaklah rasa sakit yang ia rasakan kecuali hanya berpisah dari orang yang ia cintai, maka pastilah dia merasa tertekan karenanya, sempit hatinya, sesak dadanya.

(lebih…)

Rasulullah shallallahu alahi wa sallam bersabda :

المُتَشَبِّعُ بما لَمْ يُعْطَ كَلابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ.

“Orang yang mengaku-aku memiliki sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, bagaikan orang yang memakai dua pakaian kedustaan.”

HR Bukhari 5219 Muslim no 2130

Jika direnungkan di zaman sekarang, hadis ini terasa seperti cermin raksasa yang memantulkan wajah manusia modern.

Hari ini, manusia berlari mengejar pengakuan, bukan keaslian.

Kita hidup di tengah dunia yang mengajarkan bagaimana “tampak hebat”,
bukan bagaimana “menjadi baik yang autentik”.

Orang memamerkan apa yang tidak ia miliki.

Mengaku bahagia padahal hatinya menderita
Mengaku kaya padahal sedang tak berdaya
Mengaku berhasil padahal nihil
Mengaku berilmu padahal ilmunya semu

(lebih…)

Al Utsaimin (Syarah Arbain, hadits ke- 4) menerangkan bahwa rezeki ada dua bentuk.

Pertama; rezeki untuk kebutuhan badan, seperti ; makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, atau hal yang berkaitan dengannya.

Rezeki bentuk kedua adalah yang berkaitan dengan agama seseorang. Contohnya ilmu dan iman.

Dengan demikian, rezeki tidak hanya tentang materi atau kebendaan. Tidak sebatas uang atau barang. Bisa membaca Al Qur’an adalah rezeki. Menjaga dzikir pagi petang juga rezeki. Mampu salat 5 waktu bagian dari rezeki. Ibadah apapun itu, jika dikerjakan, menjadi rezeki yang luar biasa. Walhamdulillah

Selanjutnya…

(lebih…)

Dari sahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ حِيْنَ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ : ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ ، وَلَهُ الحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ، لَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ ، سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ للهِ ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، وَاللهُ أَكْبَرُ ) ؛ غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوْبُهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ

“Barangsiapa sesaat menuju tempat tidurnya mengucapkan:

Laa ilaaha illallahu wahdah laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syain qadiir. Laa hawla wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim. Subhaanallah, wal hamdulillaah, wa laa ilaaha illallah wa Allahu akbar.

(Tidak ada ilah [sesembahan yang berhak diibadahi] kecuali hanya Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya. Dia [Allah] yang memiliki segenap kerajaan, Dia [Allah] yang memiliki segenap pujian. Tiada daya dan upaya kecuali [dari] Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung. Mahasuci Allah, dan segenap puji hanya milik Allah, dan tiada ilah [sesembahan yang berhak diibadahi] kecuali hanya Allah, dan Allah Mahabesar).

(lebih…)

AUDIO TANYA JAWAB

Pertanyaan :

Mohon nasehatnya bagi orang-orang yang boros menyia-nyiakan duit dengan menggunakannya untuk top up game

Dijawab oleh Ustadz Abu Sufyan Al Musi

DOWNLOAD

AUDIO TANYA JAWAB

Pertanyaan :

– Apabila shalat dengan satu tasyahud : tawaruk atau Iftirasy?
– Bagaimana dengan shalat di antara dua tiang?
– Seseorang shalat jahriyah dalam keadaan munfarid : bagaimana batas jahernya?
– Apabila imam Shalat lupa menjaherkan bacaan padahal shalat sirriyah?

Dijawab oleh :

AL-USTADZ ABU AFIFAH SYAFI’I ALAYDRUS HAFIDZAHULLAH.

DOWNLOAD

Sumber : https://t.me/AUDIOKAJIANNGAWIKOTA

AUDIO TANYA JAWAB

Pertanyaan :

Kalau kita tidak menggunakan suara kita untuk memilih presiden dan wakil presiden nanti suara kita akan disalah gunakan dan dimanfaatkan oleh pihak yang bermain curang dan tidak bertanggung jawab lalu bagaimana tanggung jawab kita?

Dijawab oleh Ustadz Abu Sufyan Al Musi

DOWNLOAD

Pertanyaan :

Bagaimana solusi efektif untuk anak yang mulai gandrung dengan hp yang menyebabkan sang anak menurun drastis semangat dan prestasi belajarnya?

Dijawab oleh Ustadz Abu Nashim Mukhtar

DOWNLOAD

Setiap kali saya melihat gereja, sering kali di sekitar area tersebut terdapat kafe atau tempat nongkrong. Di desa-desa yang mayoritas penduduknya beragama Kristiani, hal ini juga kerap ditemukan. Di Medan, tempat seperti itu lebih dikenal dengan istilah “Lapo Tuak”.

Dahulu saya bertanya-tanya, mengapa di sekitar gereja hampir selalu ada tempat seperti itu? Alhamdulillah, setelah sekian lama, saya akhirnya mendapatkan jawabannya melalui penjelasan Gurunda Al-Ustadz Muhammad bin Umar as-Sewed hafizahullah. Dalam salah satu kajiannya, beliau menyampaikan bahwa hal ini berkaitan dengan kebingungan dan ketidakjelasan dalam agama mereka. Setiap kali mereka beribadah, alih-alih merasa tenang, justru semakin bingung dan tertekan. Kebingungan ini sering kali mereka lampiaskan dengan mengunjungi tempat-tempat minuman keras, meski itu hanya memberikan ketenangan sementara. Setelahnya, mereka kembali terjebak dalam kebingungan.

Ustadz hafizahullah mengungkapkan hal ini saat berdiskusi dengan seorang sahabatnya di Australia ketika beliau berkunjung dan berdakwah di sana. Gambaran mengenai tuhan yang tiga tetapi satu, atau satu tetapi tiga, adalah contoh ketidakjelasan yang sampai hari ini belum mereka temukan jawabannya. Ketidakjelasan dalam konsep ketuhanan mereka berujung pada kegelisahan dalam seluruh aspek kehidupan mereka.

(lebih…)