Aku tanggalkan topi
Malam ini aku duduk di beranda
Bersedia membelah tengkorak
Selepas sebatang rokok ini.
Fuhh..
Lega menyedut racun buat aku penuh bersedia.
Lalu aku koyakkan kulit kepala.
Menggergaji tengkorak aku.
Penuh waspada otakku ambil keluar.
Sekrang otakku penuh dalam dua telapak tangan.
Darah menderas leleh.
Bila aku menjulang tinggi otakku.
Aku lepaskan, biar ia terbang
Ke tingkat - tingkat yang paling atas.
Ke lapisan ke tujuh, lapan, sembilan.
Suka hati kau lah otak.
Jaga.
Bila kau pulang otak,
Pastikan kau otak yang baru
dan aku disini.
Menuggu, tidak berotak.
p/s : Pala hotak kau.
Showing posts with label kongsi puisi. Show all posts
Showing posts with label kongsi puisi. Show all posts
Tuesday, September 4
Tuesday, March 13
suruh resahku menari
Nyanyikanlah keresahan mu dalam tulisan,
Goyang - goyangkan agar ia lalai,
tentang pedihnya kenyataan,
Lenggokkan tubuh,
Ke kiri dan ke kanan,
Agar keresahan, memujuk jiwanya sendiri,
Tarikanlah ia mengejek rentak dengki,
Mengubati luka - luka,
Hirisan duniawi.
Perit ini akan kembali.
Bukan janji, tapi pasti.
Penyembuhnya bukan dihujung dunia,
tapi tercipta dalam diri.
Pujuk lah diri ku sendiri.
Walau pupus seni dari industri.
Goyang - goyangkan agar ia lalai,
tentang pedihnya kenyataan,
Lenggokkan tubuh,
Ke kiri dan ke kanan,
Agar keresahan, memujuk jiwanya sendiri,
Tarikanlah ia mengejek rentak dengki,
Mengubati luka - luka,
Hirisan duniawi.
Perit ini akan kembali.
Bukan janji, tapi pasti.
Penyembuhnya bukan dihujung dunia,
tapi tercipta dalam diri.
Pujuk lah diri ku sendiri.
Walau pupus seni dari industri.
Friday, September 12
Kongsi Puisi Siri I
Aku pernah tulis pasal satu buku yang aku baca, (kat sini), tapi bukan review penuh pasal buku tu. Aku ada tulis jugak yang aku akan masukkan puisi - puisi Wiji Thukul yang aku suka, dengan harapan kau pun akan suka.
After all, ini untuk kawan - kawan yang kita suka!
Jadi aku panggil setiap entri puisi ini dengan nama "Kongsi Puisi Bersiri'.
_____________________________
KONGSI PUISI SIRI I
Lingkungan Kita Si Mulut Besar - Wiji Thukul
Lingkungan kita si mulut besar
Dihuni lintah – lintah
Yang kenyang menghisap darah keringat tetangga
Dan anjing – anjing yang taat beribadah
Menyingkiri para penganggur
Yang mabuk minuman murahan
Lingkungan kita si mulut besar
Raksasa yang membisu
Yang anak – anaknya terus dirampok
Dan dihibur filem – filem kartun amerika
Perempuan disetor
Ke mesin – mesin industri
Yang membayar murah
Lingkungan kita si mulut besar
Sakit perut dan terus berak
Mencret oli dan logam
Busa dan plastic
Dan zat – zat pewarna yang meransang
Menggerogoti tenggorokan bocah – bocah
Yang mengulum es
Limapuluh perak
Kampong kalangan – solo desember 1991
After all, ini untuk kawan - kawan yang kita suka!
Jadi aku panggil setiap entri puisi ini dengan nama "Kongsi Puisi Bersiri'.
_____________________________
KONGSI PUISI SIRI I
Lingkungan Kita Si Mulut Besar - Wiji Thukul
Lingkungan kita si mulut besar
Dihuni lintah – lintah
Yang kenyang menghisap darah keringat tetangga
Dan anjing – anjing yang taat beribadah
Menyingkiri para penganggur
Yang mabuk minuman murahan
Lingkungan kita si mulut besar
Raksasa yang membisu
Yang anak – anaknya terus dirampok
Dan dihibur filem – filem kartun amerika
Perempuan disetor
Ke mesin – mesin industri
Yang membayar murah
Lingkungan kita si mulut besar
Sakit perut dan terus berak
Mencret oli dan logam
Busa dan plastic
Dan zat – zat pewarna yang meransang
Menggerogoti tenggorokan bocah – bocah
Yang mengulum es
Limapuluh perak
Kampong kalangan – solo desember 1991
Subscribe to:
Posts (Atom)