Find & Share Quotes with Friends
Sosial Psikologis Quotes
Quotes tagged as "sosial-psikologis"
Showing 1-1 of 1
“Palsu II: Ego yang Menyembelih Dirinya Sendiri
Bagaimana mungkin mereka masih menyebut dirinya utuh,
sementara bayangannya sendiri menolak pulang?
Di malam yang tak memerlukan bulan,
aku melihat mereka—dan diriku—
terperangkap seperti hewan buruan
yang tersesat di hutan kelam pikiran.
Hujan turun tanpa suara.
Tanah meminum angkara.
Seseorang menjerit di luar sana…
dan tak seorang pun peduli.
Ego itu—
yang mereka bela seperti anjing lapar
yang tak mengenal tuannya—
mendesis di sela tulang rusukku,
menggigit, menyobek, menelan
segala sesuatu yang ingin kusebut
sebagai aku.
Tak ada yang tahu
siapa yang pertama kali menusukkan pisau
ke pusat kesadaran.
Entah akal yang meronta,
atau bayang-bayang
yang selama ini dibesarkan diam-diam
oleh dendam.
Ia adalah tangan asing
yang lahir dari retak imajinasi,
tertawa saat darah jatuh
tanpa jejak emosi.
Dunia tak menatap.
Lampu-lampu padam sebelum gelap datang.
Jalan-jalan terbelah seperti gempa;
denyut jantung ingin lari
dari dadanya sendiri.
Beberapa orang berjalan miring
karena tak sanggup menanggung
beban di kepalanya.
Yang lain menyeret bayangan
yang memberontak seperti anak haram
yang menolak mengakui bapaknya.
Di televisi, papan reklame,
musik yang memekakkan,
aku melihat wajah yang sama—
wajah yang menolak mengakui
bahwa tubuh tempat ia tinggal
sudah lama membusuk
oleh kebohongan kecil
yang disembah
setiap malam.
Mereka bertanya:
“Masihkah darah berwarna merah?”
Aku diam.
Karena warna tak berguna
bagi mereka yang kehilangan mata
untuk melihat luka—
dan hanya punya mata
untuk menakar
siapa lebih tinggi,
lebih suci,
lebih benar
dalam dunia yang bahkan
tak punya tanah untuk berpijak.
Di sebuah pulau tanpa nama,
seseorang menyalakan api
lalu memotret dirinya sendiri
agar percaya
bahwa ia pernah hidup sebagai manusia—
walau hanya dalam fotonya.
Seorang gadis makan es krim
sambil memikirkan kekasih
yang ia benci
namun tak mampu ia lepaskan
karena kesepian
lebih menakutkan
daripada kebodohan.
Dan di antara semua itu,
aku menemukan diriku
mengiris sesuatu
yang tampak seperti wajah—
lebih licin, lebih dingin,
lebih keras kepala
daripada cermin mana pun
yang pernah menatapku.
Ego itu meraung
ketika kusayat pelan-pelan.
Ia tidak mati.
Ia membelah diri.
Menjadi dua.
Tiga.
Seratus.
Menjadi ribuan mulut
yang menuntut penjelasan
yang tidak ingin kuberikan.
Sebab apa gunanya menjelaskan
kepada sesuatu yang hidup
hanya untuk mempertahankan
ilusi bahwa ia bukan zombie?
Saat itu aku mengerti:
Kita tidak pernah takut pada dunia.
Kita takut dipaksa mengakui
bahwa yang menghancurkan kita
adalah bayangan
yang kita ciptakan
untuk menyelamatkan diri
kita sendiri.
Dan ketika ego itu akhirnya berlutut,
menyembelih dirinya
di bawah kakiku
seperti sapi bingung
yang tak tahu
mengapa ia harus dikorbankan,
Tapi aku tahu:
yang mati bukan ia—
melainkan cerita
yang dengan keras kepala
kuanggap sebagai kisah hidupku.
Yang hilang
adalah kebohongan
yang selama bertahun-tahun
kubiarkan menyusu
pada pikiranku.
Yang tersisa
hanyalah ruang kosong
yang tak memerlukan cahaya,
tak memerlukan jawaban,
tak memerlukan nama.
Ruang hampa
menatap balik
seperti dunia.
Tanpa mata.
Tanpa cinta.
Tanpa iba.
Dan aku pun masuk.
Bukan sebagai korban.
Bukan sebagai penyintas.
Tetapi sebagai sesuatu
yang akhirnya menghilang
tanpa perlu menjelaskan
kepada siapa pun
mengapa ia harus hilang.
November 2025”
―
Bagaimana mungkin mereka masih menyebut dirinya utuh,
sementara bayangannya sendiri menolak pulang?
Di malam yang tak memerlukan bulan,
aku melihat mereka—dan diriku—
terperangkap seperti hewan buruan
yang tersesat di hutan kelam pikiran.
Hujan turun tanpa suara.
Tanah meminum angkara.
Seseorang menjerit di luar sana…
dan tak seorang pun peduli.
Ego itu—
yang mereka bela seperti anjing lapar
yang tak mengenal tuannya—
mendesis di sela tulang rusukku,
menggigit, menyobek, menelan
segala sesuatu yang ingin kusebut
sebagai aku.
Tak ada yang tahu
siapa yang pertama kali menusukkan pisau
ke pusat kesadaran.
Entah akal yang meronta,
atau bayang-bayang
yang selama ini dibesarkan diam-diam
oleh dendam.
Ia adalah tangan asing
yang lahir dari retak imajinasi,
tertawa saat darah jatuh
tanpa jejak emosi.
Dunia tak menatap.
Lampu-lampu padam sebelum gelap datang.
Jalan-jalan terbelah seperti gempa;
denyut jantung ingin lari
dari dadanya sendiri.
Beberapa orang berjalan miring
karena tak sanggup menanggung
beban di kepalanya.
Yang lain menyeret bayangan
yang memberontak seperti anak haram
yang menolak mengakui bapaknya.
Di televisi, papan reklame,
musik yang memekakkan,
aku melihat wajah yang sama—
wajah yang menolak mengakui
bahwa tubuh tempat ia tinggal
sudah lama membusuk
oleh kebohongan kecil
yang disembah
setiap malam.
Mereka bertanya:
“Masihkah darah berwarna merah?”
Aku diam.
Karena warna tak berguna
bagi mereka yang kehilangan mata
untuk melihat luka—
dan hanya punya mata
untuk menakar
siapa lebih tinggi,
lebih suci,
lebih benar
dalam dunia yang bahkan
tak punya tanah untuk berpijak.
Di sebuah pulau tanpa nama,
seseorang menyalakan api
lalu memotret dirinya sendiri
agar percaya
bahwa ia pernah hidup sebagai manusia—
walau hanya dalam fotonya.
Seorang gadis makan es krim
sambil memikirkan kekasih
yang ia benci
namun tak mampu ia lepaskan
karena kesepian
lebih menakutkan
daripada kebodohan.
Dan di antara semua itu,
aku menemukan diriku
mengiris sesuatu
yang tampak seperti wajah—
lebih licin, lebih dingin,
lebih keras kepala
daripada cermin mana pun
yang pernah menatapku.
Ego itu meraung
ketika kusayat pelan-pelan.
Ia tidak mati.
Ia membelah diri.
Menjadi dua.
Tiga.
Seratus.
Menjadi ribuan mulut
yang menuntut penjelasan
yang tidak ingin kuberikan.
Sebab apa gunanya menjelaskan
kepada sesuatu yang hidup
hanya untuk mempertahankan
ilusi bahwa ia bukan zombie?
Saat itu aku mengerti:
Kita tidak pernah takut pada dunia.
Kita takut dipaksa mengakui
bahwa yang menghancurkan kita
adalah bayangan
yang kita ciptakan
untuk menyelamatkan diri
kita sendiri.
Dan ketika ego itu akhirnya berlutut,
menyembelih dirinya
di bawah kakiku
seperti sapi bingung
yang tak tahu
mengapa ia harus dikorbankan,
Tapi aku tahu:
yang mati bukan ia—
melainkan cerita
yang dengan keras kepala
kuanggap sebagai kisah hidupku.
Yang hilang
adalah kebohongan
yang selama bertahun-tahun
kubiarkan menyusu
pada pikiranku.
Yang tersisa
hanyalah ruang kosong
yang tak memerlukan cahaya,
tak memerlukan jawaban,
tak memerlukan nama.
Ruang hampa
menatap balik
seperti dunia.
Tanpa mata.
Tanpa cinta.
Tanpa iba.
Dan aku pun masuk.
Bukan sebagai korban.
Bukan sebagai penyintas.
Tetapi sebagai sesuatu
yang akhirnya menghilang
tanpa perlu menjelaskan
kepada siapa pun
mengapa ia harus hilang.
November 2025”
―
All Quotes
|
My Quotes
|
Add A Quote
Browse By Tag
- Love Quotes 102k
- Life Quotes 81k
- Inspirational Quotes 77.5k
- Humor Quotes 45k
- Philosophy Quotes 32k
- Inspirational Quotes Quotes 28.5k
- God Quotes 27k
- Wisdom Quotes 25k
- Romance Quotes 25k
- Truth Quotes 25k
- Poetry Quotes 24.5k
- Life Lessons Quotes 23k
- Quotes Quotes 21.5k
- Death Quotes 21k
- Happiness Quotes 19k
- Hope Quotes 19k
- Faith Quotes 18.5k
- Inspiration Quotes 18k
- Spirituality Quotes 16k
- Motivational Quotes 16k
- Relationships Quotes 16k
- Religion Quotes 15.5k
- Life Quotes Quotes 15.5k
- Writing Quotes 15k
- Love Quotes Quotes 15k
- Success Quotes 14k
- Motivation Quotes 14k
- Time Quotes 13k
- Science Quotes 12.5k
- Motivational Quotes Quotes 12k